Friday, February 10, 2012

Da Vinci Code - Bab 55, Pengguncang Keimanan Nasrani



Apakah Anda sudah membaca Novel Dan Brown "Da Vinci Code" yang fenomenal itu? Jika belum saya akan kutip sebagian dari novel tersebut, yang menurut saya adalah bagian yang paling 'mendebarkan'. Selamat membaca!

Tokoh Utama Pria : Robert Langdon
Tokoh Utama Wanita : Sophie
Tokoh Pembantu :  Sir Leigh Teabing (seorang sejarawan, khususnya yang berkaitan dengan Holy Grail)
Suasana : Di dalam sebuah ruang kerja Sir Leigh Teabing berupa perpustakaan pribadi ditempat tinggalnya sendiri.

55
SOPHIE DUDUK di atas kursi panjang di samping Langdon. Dia meminum
tehnya dan makan kue scone. Dia merasakan pengaruh kafein dan makanan
yang menyenangkan. Sir Leigh Teabing tampak berseri wajahnya ketika melangkah
kaku ke depan perapian. Penopang kakinya berdentingan pada batu
perapian.



“Holy Grail,” kata Teabing, suaranya terdengar seremonial. “Umumnya
orang menanyakan padaku di mana Grail itu sekarang. Aku khawatir itu
pertanyaan yang tidak akan pernah dapat kujawab.” Dia menoleh dan menatap
langsung pada Sophie. “Namun ... pertanyaan yang lebih relevan adalah:
Apakah Holy Grail itu?”

Sophie merasa ada suasana akademis yang meninggi dari kedua orang
teman lelakinya itu sekarang.

“Untuk mengerti Grail sepenuhnya,” Teabing melanjutkan, “pertama-tama
kita harus mengerti Alkitab. Sejauh mana kau mengerti Perjanjian Baru?”
Sophie menggerakkan bahunya. “Sama sekali tidak mengerti. Aku
dibesarkan oleh pria yang memuja Leonardo da Vinci.”

Teabing tampak terkejut dan juga senang. “Sepotong jiwa yang
tercerahkan. Istimewa! Kalau begitu, kau pasti tahu bahwa Leonardo adalah
salah satu dari penjaga rahasia Holy Grai1. Dan dia menyembunyikan berbagai
petunjuk dalam karya seninya.”
“Ya, Robert telah mengatakannya padaku.”
“Dan, pandangan Da Vinci pada Perjanjian Baru?”
“Aku tidak tahu.”

Mata Teabing bersinar riang ketika dia menunjuk ke rak buku di seberang
ruangan. “Robert, bisa tolong? Di dasar rak. La storia di Leonardo.”
Langdon bergerak ke seberang ruangan, menemukan sebuah buku seni
besar, kemudian membawanya, lalu meletakkannya di atas meja di hadapan
mereka. Teabing memutar buku itu hingga menghadap ke Sophie. Dia
membuka sampul tebalnya dan menunjuk ke arah serangkaian kutipan pada
bagian dalam dari sampul belakang. “Dari buku catatan Da Vinci tentang
polemik dan spekulasi,” kata Teabing, sambil menunjukkan satu kutipan yang
khusus. “Kupikir kau akan merasa ini relevan dengan kita.”

Sophie membaca kata-kata itu.

Banyak orang menjual angan-angan
dan mukjizat-mukjizat semu, mengelabui orang-orang bodoh.
LEONARDO DA VINCI

“Ini ada satu lagi,” kata Teabing, sambil menunjuk pada kutipan yang lain.
Kelalaian membuta menyesatkan kita

0! Makhluk hidup celaka, buka mata kalian!
LEONARDO DA VINCI

Sophie merasa agak merinding. “Da Vinci berbicara tentang alkitab?”
Teabing mengangguk. “Perasaan Leonardo tentang Alkitab berhubungan
langsung dengan Holy Grail. Kenyataannya, Da Vinci melukis Grail yang asli,
yang akan kutunjukkan kepadamu sebentar lagi, tetapi pertama-tama kita harus
berbicara tentang Alkitab.” Teabing tersenyum. “Dan, segala yang kauingin
tahu tentang Alkitab dapat disimpulkan oleh doktor agama yang terkenal,
Martyn Percy.” Teabing berdaham dan menyatakan, “Alkitab tidak datang
dengan cara difaks dari surga.”
“Maaf?”

“Alkitab adalah buatan manusia, Nona. Bukan Tuhan. Alkitab tidak jatuh
secara ajaib dari awan. Orang membuatnya sebagai catatan sejarah dari hirukpikuk
zaman, dan itu telah melibatkan penerjemahan, penambahan, dan revisi
yang tak terhitung. Sejarah tidak pernah punya versi pasti buku itu.”

“Okay.”

“Yesus Kristus merupakan tokoh sejarah dengan pengaruh luar biasa,
mungkin pemimpin yang paling membingungkan dan paling melahirkan
inspirasi yang pernah ada di dunia. Seperti Messiah yang diramalkan, Yesus
melebihi raja-raja, memberi inspirasi kepada jutaan orang, dan mendirikan
filosofi baru. Sebagai keturunan Raja Salomo dan Raja David, Yesus berhak
mewarisi takhta Raja Yahudi. Dapat dimengerti, kehidupan-Nya dicatat oleh
ribuan pengikut di seluruh bumi ini.” Teabing terdiam sejenak untuk
menghirup tehnya, kemudian meletakkan cangkirnya kembali di atas bibir
perapian. “Lebih dari delapan pu1uh ajaran dianggap berasal dari Perjanjian
Baru, namun hanya relatif sedikit yang dipilih untuk dicantumkan—di
antaranya Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.”

“Siapa yang memilih ajaran untuk dicantumkan?” tanya Sophie.
“Aha!” Teabing meledak bersemangat. “Ironi mendasar dari Kristen!
Alkitab yang kita kenal sekarang ini disusun oleh kaisar Roma yang pagan,
Konstantin Agung.”
“Kukira Konstantin penganut Kristen,” kata Sophie.
“Tak benar,” Teabing terbatuk. “Dia seorang pagan seumur hidup. Dia
dibaptis pada ranjang kematiannya, ketika dirinya terlalu lemah untuk
melawan. Di masa Konstantin, agama resmi Romawi adalah pemujaan
matahari—kelompok pemujaan Sol Invictus, atau Matahari Tak Tertandingi—
dan Konstantin adalah pendeta kepalanya. Celaka baginya, sebuah guncangan
religius tumbuh dan mencengkeram Roma. Tiga abad setelah penyaliban
Yesus Kristus, para pengikut Kristus tumbuh berlipat-lipat. Kaum Kristen dan
pagan mulai berperang, dan konffik itu tumbuh sedemikian besar sehingga
mengancam akan membelah Roma menjadi dua. Konstantin memutuskan
bahwa sesuatu harus dilakukan. Pada tahun 325 Masehi, ia memutuskan untuk
menyatukan Romawi dalam sebuah agama tungga. Kristen.”
Sophie terkejut. “Mengapa seorang kaisar pagan memilih Kristen sebagai
agama resmi?”

Teabing tergelak. “Konstantin adalah pebisnis kawakan. Dia dapat melihat
bahwa Kristen sedang bangkit, dan ia sekadar bertaruh pada kuda pemenang.
Para sejarawan masih memuji kecemerlangan Konstantin yang mengalihkan
kaum pagan pemuja matahari menjadi Kristen. Dengan meleburkan symbolsimbol,
tanggal-tanggal, serta ritus-ritus pagan ke dalam adapt-istiada Kristen
yang sedang tumbuh, dia telah menciptakan sejenis agama hibrid yang dapat
diterima oleb kedua belah pihak.”

“Transmogrifikasi,” ujar Langdon. “Jejak-jejak agama pagan dalam
simbologi Kristen tak terbantahkan. Cakram matahari kaum Mesir kuno
menjadi lingkaran halo para santo Katolik. Berbagai piktogram Isis yang
sedang menyusui putranya yang lahir karena mukjizat, Horus, menjadi cetak
biru bagi berbagai penggambaran modern kita akan Perawan Maria yang
sedang menyusui bayi Yesus. Dan, nyaris semua unsur dalam ritus Katolik---
mitra, altar, doksologi, dan komuni, atau tindakan “makan Tuhan”---diambil
langsung dari agama-agama misteri pagan di masa awal.”
Teabing mengerang. “Jangan biarkan seorang simbolog mulai bicara
tentang ikon-ikon Kristen. Tak ada yang asli dalam Kristen. Mithras, Tuhan
pra-Kristen---disebut Putra Tuhan dan cahaya dunia---lahir dan mati pada 25
Desember, dikubur dalam sebuah makam batu, dan kemudian dibangkitkan
dalam tiga hari. Omong-omong, 25 Desember juga hari lahir Osiris, Monis,
dan Dionysus. Khrishna yang baru lahir dihadiahi emas, dupa, dan kemenyan.
Bahkan hari suci mingguan orang Kristen dicuri dari kaum pagan.”

“Apa maksudmu?”

“Aslinya,” kata Langdon, “Kristen menghormati Sabat Yahudi pada hari
Sabtu, tapi Konstantin menggesernya agar bertemu dengan hari kaum pagan
memuliakan matahari.” Dia mengambil jeda, menyeringai. “Hingga hari ini,
kebanyakan jemaat gereja menghadiri layanan Gereja pada Minggu pagi tanpa
sadar sama sekali bahwa mereka sedang melakukan penghormatan mingguan
pada dewa matahari kaum pagan—Sun-day, hari matahari.
Kepala Sophie berputar tak karuan. “Dan segala hal ini berhubungan
dengan Grail?”

“Memang,” kata Teabing. “Bersabarlah sejenak. Selama fusi agama-agama
ini, Konstantin perlu memperkuat tradisi Kristen baru, dan dia mengadakan
sebuah pertemuan ekumenikal termasyhur, yang dikenal dengan nama Konsili
Nicea.

Sophie hanya mendengarnya sebagai tempat lahir Pengakuan Iman Nicea.
“Dalam pertemuan ini,” kata Teabing, “banyak aspek dari Kristen
diperdebatkan dan ditetapkan berdasarkan voting—tanggal paskah, peranan
para uskup, administrasi sekramen, dan, tentu saja ketuhanan Yesus.”
“Aku tak mengerti. Ketuhanan Yesus?”
“Sayangku,” tegas Teabing, “hingga saat itu dalam sejarah, Yesus
dipandang oleh para pengikut-Nya sebagai nabi yang dapat mati…seorang
lelaki agung yang punya kekuatan, tapi tak lebih dari seorang manusia.
Seorang fana, manusia biasa.”

“Bukan Putra Tuhan?”

“Benar,” sahut Teabing. “Penetapan Yesus sebagai ‘Putra Tuhan’ secara
resmi diusulkan dan ditetapkan melalui voting oleh Konsili Nicea.”

“Tunggu dulu. Maksudmu, keilahian Yesus adalah hasil voting?”

“Sebuah voting yang ketat, sebenarnya,” tambah Teabing. “Walau begitu,
menetapkan kelahiran Kristus penting sekali bagi penyatuan lebih jauh
kekaisaran Romawi dan bagi basis kekuatan Vatikan yang baru. Dengan secara
resmi memuja Yesus sebagai Putra Tuhan, Konstantin mengubah Yesus
menjadi dewa yang berada di luar cakupan dunia manusia, sebuah entitas
dengan kekuatan yang tak tertandingi. Ini bukan hanya menyisihkan tantangan
selanjutnya dari kaum pagan terhadap Kristen, tapi membuat para pengikut
Kristus kini dapat menebus diri hanya mereka melalui pembuatan sebuah
saluran suci—Gereja Katolik Roma.

Sophie melirik Langdon, dan Langdon memberinya sebuah anggukan
lembut tanda pembenaran.

“Semua ini masalah kekuasaan,” lanjut Teabing. “Kristus sebagai Juru
Selamat adalah amat penting bagi berfungsinya gereja dan negara. Banyak
sarjana mengklaim bahwa Gereja pada masa awalnya benar-benar mencuri
Yesus dari para pengikut asli-Nya, dengan membajak pesan-pesan manusiawi-
Nya, mengaburkannya dalam jubah ketuhanan yang tak tertembus, dan
menggunakannya untuk meluaskan kekuasaan mereka. Aku telah menulis
beberapa buku mengenai topik ini.”

“Aku menduga, orang-orang Kristen yang taat mengirimimu surat-surat
permusuhan setiap hari?”

“Mengapa mereka mau melakukan itu?” sergah Teabing. ”Mayoritas besar
orang Kristen terdidik mengetahui sejarah iman mereka. Yesus memanglah
seorang manusia agung dan berkuasa. Manuver politik bawah tangan dari
Konstantin tidak memupuskan keagungan hidup Kristus. Tak ada yang
mengatakan bahwa Kristus adalah tokoh gadungan, atau menyangkal bahwa
Dia berjalan di muka bumi dan mengilhami jutaan orang untuk memperbaiki
hidup mereka. Yang kita katakan di sini hanyalah, Konstantin mengambil
keuntungan dari pengaruh dan arti penting Kristus yang besar. Dan dalam
melakukan itu, dia telah membentuk wajah Kristen seperti yang kita kenal
sekarang.”

Sophie menatap sekilas buku seni di hadapannya, bergairah untuk terus
maju dan melihat lukisan Holy Grail dari Da Vinci.
“Masalahnya adalah ini,” kata Teabing, kini bicaranya lebih cepat. “Karena
Konstantin meningkatkan status Yesus hampir empat abad setelah kematian
Yesus, ribuan dokumen yang mencatat kehidupan-Nya sebagai manusia biasa
sudah terlanjur ada. Untuk menulis ulang buku-buku sejarah, Konstantin tahu
bahwa ia perlu mengambil sebuah langkah berani. Dari sinilah timbul sebuah
momen paling menentukan dalam sejarah Kristen.” Teabing berhenti sejenak,
menatap Sophie. “Konstantin menitahkan dan membiayai penyusunan sebuah
Alkitab baru, yang meniadakan semua ajaran yang berbicara tentang segala
perilaku manusiawi Yesus, serta memasukkan ajaran-ajaran yang membuat-
Nya seakan Tuhan. Injil-injil terdahulu dianggap melanggar hukum, lalu
dikumpulkan dan dibakar.”

“Sebuah catatan menarik,” tambaah Langdon. “Siapa pun yang memilih
Injil-injil terlarang dan bukannya versi Konstantin akan dianggap sebagai
kaum bidah, heretic. Kata heretic diambil dari momen sejarah tersebut. Kata
Latin haereticus berarti ‘pilihan’. Mereka yang ‘memilih’ sejarah asli dari
Kristus adalah kaum heretic pertama di dunia.”

“Untungnya bagi para sejarawan,” kata Teabing, “beberapa gospel yang dicoba
untuk dimusnahkan oleh Konstantin berhasil diselamatkan. Dead Sea Scrolls,
Gulungan-Gulungan Laut Mati, ditemukan pada tahun 1950-an tersembunyi di
sebuah gua dekat Qumran di gurun Yudea. Dan, tentu saja, Gulungan Koptik
pada tahun 1945 di Nag Hammadi. Sebagai tambahan dari penuturan kisah
Grail sejati, dokumen-dokumen ini berbicara tentang kependetaan Kristus
dalam keadaan-keadaan yang amat manusiawi. Tentu saja Vatikan, dalam
memelihara tradisi misinformasi mereka, mencoba amat keras untuk menekan
pengabaran gulungan-gulungan naskah ini. Mengapa tidak? Gulungan-
gulungan itu menggarisbawahi ketidakcocokan dan pemalsuan sejarah yang
mencolok, jelas-jelas membenarkan bahwa alkitab modern disusun dan diedit
oleh manusia yang memiliki sebuah agenda politis-- untuk mempromosikan
keilahian, seorang lelaki bernama Yesus Kristus dan memanfaatkan pengaruh-
Nya untuk mengukuhkan basis kuasa mereka sendiri.”

“Namun,” sanggah Langdon, “amatlah penting untuk mengingat bahwa
hasrat Gereja modern untuk menekan dokumen-dokumen ini datang dari
kepercayaan tulus yang lahir dari pandangan mapan mereka akan Kristus.
Vatikan terbangun dari orang-orang yang teramat saleh, yang sungguhsungguh
percaya bahwa dokumen-dokumen yang bertentangan ini tak bisa lain
adalah kesaksian palsu.”

Teabing tergelak, sambil menyantaikan dirinya pada sebuah kursi di
hadapan Sophie. “Seperti yang dapat kaulihat, profesor kita ini punya hati
yang jauh lebih lunak terhadap Roma daripada hatiku. Walau begitu, ia benar
mengenai kaum pendeta yang meyakini dokumen-dokumen penentang ini
sebagai kesaksian palsu. Itu dapat dimengerti. Alkitab versi Konstantin telah
menjadi kebenaran mereka selama berabad-abad. Tiada seorangpun yang
lebih terindoktrinasi kecuali pendoktrin itu sendiri.”

“Maksud dia,” kata Langdon, “adalah bahwa kita memuja tuhan-tuhan dari
para leluhur kita.”

“Maksudku,” sergah Teabing, “adalah bahwa nyaris segala yang diajarkan
para leluhur kita tentang Kristus adalah palsu. Sebagaimana kisah-kisah Holy
grail ini.”

Sophie memandang lagi kutipan Da Vinci didepannya. Kebodohan
membutakan teiah menyesatkan kita. Oi! Orang-orang bodoh, bukalah mata
kalian!

Teabing meraih buku itu dan membuka lembar demi lembar hingga ke
tengahnya. “Dan akhirnya, sebelum áku tunjukkan kepadamu lukisan-lukisan
Da Vinci tenrang Holy Grail, aku ingin kau melihat ini sekilas.” Ia membuka
buku itu tepat pada buah grafis warna-warni yang membentang sepenuh
halaman. “Aku pikir kau mengenali lukisan ini?”

Leonardo da Vinci (1452-1519) - The Last Supper (1495-1498)
(klik gambar untuk memperbesar)


Dia bercanda, bukan? Sophie menatap lukisan paling masyhur sepanjang
masa, The Last Supper, lukisan legendaris Da Vinci dari dinding Santa Maria
delle Grazie di Milan. Lukisan yang meluntur itu menggambarkan Yesus dan
para murid-Nya pada saat Yesus mengumumkan bahwa salah satu dari mereka
akan mengkhianati-Nya. “Ya, aku tahu lukisan itu.”

“Mungkin kaumau memanjakanku dalam permainan ini? Tolong tutup
matamu.”

Merasa ragu, Sophie menutup matanya.

“Di mana Yesus duduk?” tanya Teabing.

“Di tengah.”

“Bagus. Apa makanan yang disantap Yesus dan para murid-Nya?”

“Roti.” Jelas.

“Bagus sekali. Dan apa minumnya?”

“Anggur. Mereka minum anggur.”

“Hebat. Dan satu pertanyaan final. Berapa banyak gelas anggur di atas
meja?”

Sophie berhenti sejenak, menyadari bahwa ini pertanyaan menjebak. Dan
setelah makan malam, Yesus mengambil secangkir anggur, berbagi dengan
para murid-~Nya. “Satu cangkir,” katanya. “Cawan suci.” Mangkuk Kristus.
Holy Grail. “Yesus membagi-bagikan secawan anggur, sebagaimana yang
dilakukan kaum Kristen modern pada komuni.”
Teabing mendesah. “Buka matamu.”
Sophie membuka matanya. Teabing menyeringai angkuh. Sophie
memandang ke bawah, ke lukisan itu, melihat dengan takjub bahwa setiap
orang di meja itu memegang segelas anggur, termasuk Kristus sendiri. Tiga
belas cawan. Selain itu, cawan-cawan itu tampak kecil, tak bertangkai, dan
terbuat dari kaca. Tak ada satu pun Cawan sesungguhnya dalam lukisan itu.

Tiada Holy Grail.

Mata Teabing berkedip-kedip. “Tidakkah sedikit aneh menurutmu,
mengingat bahwa baik Alkitab dan legenda kita yang lazim tentang Holy Grail
merayakan momen ini sebagai kemunculan pasti dari Holy Grail. Anehnya, Da
Vinci tampak lupa untuk melukis Cawan Kristus.”

“Tentunya para sarjana seni telah mencatat hal ini.”

“Kau akan terkejut jika mengetahui berbagai anomali yang dicakupkan Da
Vinci dalam lukisan ini, yang kebanyakan sarjana tak melihatnya atau sekadar
memilih untuk mengabaikannya. Gambar ini, sesungguhnya, adalah kunci
keseluruhan misteri Holy Grail. Da Vinci membentangkan semuanya secara
terbuka dalam The Last Supper.”

Sophie memindai karya itu dengan bersemangat. “Apakah lukisan ini
mengatakan pada kita apa Holy Grail itu sesungguhnya?”
“Bukan apa,” bisik Teabing. “Tapi siapa dia. Holy Grail bukanlah sebuah
benda. Sesungguhnya, Holy Grail adalah…seseorang.

*******

No comments:

Post a Comment